Melek Media -- Tulisanku di Jurnal Thesis :)

Kemampuan Melek Media Pada Lima Siswa Peserta Mata Pelajaran Media Literacy di Sekolah Dasar Islam Lentera Insan Depok

Oleh: Isti Prihandini
(v + 134 pages + 2 tables + addition 80 pages; 20 books, 11 articles, 2 research, 1 journal, 1 modules. Bibliography 1973-2007).

Abstract
The subject of media literacy is one of subjects thought at Lentera Insan Islamic Elementary School which aims to teach media literacy skill to students. This research purposes learning how succes this subject to building student’s media literacy skill. This research uses media literacy, subject of media literacy, and children cognitive development concept. The subjects are teachers, students in second class between 7th-8th years old, and their parents. This research uses constructivist paradigm and qualitative method. In the researching, it’s found out that student who participate in subject of media literacy have critical attitudes and skills for choosing television programs according developmental aging. The critical attitudes are shown by student understanding about unreal performances, persuasive unsure in advertising, television effects in children life, and opinions about television programs watched. Skill for choosing can be seen with student can differ good or bad children programs, and programs with specific condition. The other indicator is “TV diet” or limited watching TV.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Hanya dalam waktu dua puluh tahun, pertumbuhan stasiun televisi (TV) di Indonesia menunjukkan angka yang mengagumkan. Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya 1987, di Indonesia hanya ada dua stasiun televisi, TVRI (Televisi Republik Indonesia) dan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Sekarang, tahun 2007, penonton Indonesia sudah dimanjakan dengan berbagai program dari 11 stasiun televisi skala nasional. Angka ini semakin besar dengan bertambahnya jumlah stasiun TV yang siarannya skala lokal, yang hampir tersebar di seluruh ibukota provinsi di Indonesia, sampai tingkat kotamadya dan kabupaten. Pinckey (2005) mencatat ada 56 stasiun TV lokal di Indonesia. Di Jakarta sendiri, stasiun TV yang mengkhususkan diri pada siaran lokal tidak hanya satu, ada Jak TV, O Channel, dan TV yang mengkhususkan pada program anak-anak seperti Spacetoon. Belum lagi TV kabel atau TV berlangganan yang juga sudah marak di Indonesia. Seorang praktisi media terkemuka Martin Eslin, menyebut era ini sebagai the Age Television (Malik dalam Mulyana, 1994: 109-110).

Munculnya TV sejak pertama kali memang telah membuat masyarakat terpikat karena berbagai kelebihan yang dimilikinya. Penontonnya pun tak ada batasan usia, dari anak-anak, remaja, dan dewasa. Namun dibandingkan penonton kelompok usia yang lain, penonton anak-anaklah yang banyak menjadi fokus perhatian. Anak-anak dan televisi adalah perpaduan yang sangat kuat. Tak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan TV yang luar biasa dalam ‘menyentuh’ anak-anak (Chen, 1996: xiii).
Di Indonesia sendiri, interaksi antara anak-anak dan TV termasuk sangat tinggi. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mencatat sekitar 60 juta anak Indonesia menonton televisi selama berjam-jam setiap hari. Pada tahun 2002 jumlah jam menonton TV pada anak adalah 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di Sekolah Dasar yang tidak mencapai 1000 jam/tahun.

Maka tak heran bila TV kini dianggap sebagai new parent for million children (Halloran, 1980) atau pengasuh anak-anak (pacifier), sehingga anak-anak menjadi tidak suka bermain-main di jalan, lebih banyak diam di rumah, serta tidak nakal (Gantz & Masland, 1986, dalam Noviana, 1991).

Untuk waktu yang lama kita mengetahui televisi memainkan peran penting dalam kehidupan anak kita. Namun akhirnya kita mulai mengerti bagaimana kuatnya pengaruh TV terhadap anak-anak (Brazelton dalam Kaye, 1979: xiii). Hal ini karena interaksi anak-anak dengan TV bukanlah sebuah interaksi tanpa masalah, dari dulu hingga sekarang. Pada tahun 1965, penelitian Albert Bandura menyebutkan bahwa ada pengaruh tayangan film terhadap perilaku agresif anak-anak (Kniveton dalam Brown, ed, 1976: 239). Masih pada tahun 1960an, kejahatan dan kenakalan anak di Amerika dilaporkan meningkat jumlahnya. Beragam studi pun dilakukan oleh American Medical Assosiation, American Psycological Assosiation, American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, dan National Institute of Mental Health. Hasil studi mereka secara tegas menyebutkan bahwa ada hubungan kuat antara tingkah laku kekerasan anak dengan sajian acara TV atau layar lebar yang memuat adegan kekerasan (Parents Guide, 2005: 18).

Di Indonesia, perilaku agresif tersebut pernah terjadi. Pada tahun 2006 pemirsa dikejutkan dengan berita meninggalnya Reza Ikhsan Fadillah (9 tahun), Ade Septian Hunga (7 tahun), akibat meniru tayangan Smackdown. Dalam catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), akibat peniruan tayangan smackdown itu, dua anak meninggal, serta tujuh lainnya mengalami luka berat seperti kebocoran kening, patah tulang kaki, patah tulang tangan, patah tulang punggung, hingga gegar otak.[1]

Walaupun Smackdown! akhirnya tidak lagi ditayangkan, namun anak-anak masih banyak yang menonton film yang bertema kekerasan. Buktinya adalah berdasarkan survei AGB Nielsen Media Research periode Januari–Mei 2007 di 13 kota besar di Indonesia, film seperti Power Ranger Dino Thunder (Indosiar) justru menempati peringkat pertama dan Power Ranger S.P.D. (Indosiar) menempati peringkat ketiga dalam Top 10 Children Program untuk program usia 5-9 tahun dengan rating 4,9 dan share 27, 1 (AGB Nielsen Media Research, 2007).

Di Indonesia sendiri, ada keluarga-keluarga yang tidak menaruh TV di rumah dengan alasan TV berbahaya untuk anak-anak mereka. Namun, problem interaksi TV dan anak-anak tak akan selesai dengan sekedar mematikan TV atau tidak memiliki TV di rumah. Anak-anak bisa dengan mudah tetap menonton TV di rumah tetangga karena hampir di semua rumah sekarang ada TV.
Selain itu, TV pun tak selamanya buruk bagi anak-anak. Televisi dapat memberi manfaat bagi anak, antara lain membantu memahami dunia sekitar, membantu proses belajar baca tulis dan melek visual (visual literacy), memperluas wawasan, memperkaya pengalaman hidup, menunjang pelajaran sekolah terutama dalam pengetahuan umum, dan memberi sambungan ke dunia global (Nasution dalam Mulyana, 1997: 205).

Tampak bahwa dampak teknologi komunikasi, khususnya televisi, ternyata menyimpan paradoksnya sendiri. Menurut pakar komunikasi Everet M. Rogers, ada sisi positif dan negatif yang datang berbarengan (Rogers, 1986: 192, dalam Malik dalam Mulyana, 1997: 43 - 45). Elliot menegaskan bahwa tekanan keuangan pada industri TV mempunyai konsekuensi terhadap kualitas acara. (Elliot, 1977, dalam Mulyana dalam Mulyana, 1997).
Maka, upaya yang diperlukan adalah melakukan pencerdasan kepada penonton tentang bagaimana berinteraksi dengan media, khususnya TV. Perhatian besar yang harus dilakukan adalah kepada penonton anak-anak. Dibandingkan penonton remaja dan dewasa, penonton anak-anak adalah penonton yang paling rawan terkena dampak TV karena sifat imitation yang dimilikinya masih kuat. Imitation adalah meniru secara langsung tingkah laku orang atau kelompok yang dilihatnya.

Upaya mencerdaskan penonton dalam berinteraksi dengan media dilakukan dengan memberinya skill media literacy (melek media). Media literacy adalah kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai format, baik cetak maupun noncetak.

Gerakan menumbuhkan melek media, khususnya pada anak-anak, sudah dilakukan di berbagai negara. Di Amerika Serikat pada tahun 1970an muncul kelompok-kelompok yang mengadvokasi melek media seperti Center for Media Education, Center for Media Literacy, National Telemedia Council, Citizens for Media Literacy, National Media Citizenship Project, dan Children’s Media Policy Network. Konferensi-konferensi nasional seperti Media Education Conference dan Media Litercy Citizenship Project Conference telah mempertemukan para pendidik, profesional media, dan warga yang peduli untuk menyatukan suara mendukung melek media.[2]

Di California, sebagai contoh, English Language Arts Standards (ELA) mengharuskan siswa mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengkritik teknik persuasif sebuah pesan media. Di Afrika Selatan, pendidikan media literacy digunakan untuk mempromosikan reformasi pendidikan (Piette dan Giroux, 1997). Sedangkan di negara-negara penutur Bahasa Inggris, seperti Inggris, Skotlandia, Kanada, dan Australia, pendidikan media literacy menjadi bagian dari pelajaran seni bahasa (Bazalgette, 1992).[3]

Di Australia, pendidikan media secara aktif ditempatkan di pendidikan publik sejak awal 1970an. Sedikit pendidik Australia yang memahami bahwa pendidikan media adalah sebuah bentuk cultural protection untuk membantu orang tua dan para guru mengilustrasikan perbedaan antara nilai dan norma Amerika dan Australia. Salah satu organisasi media literacy yang terbilang sukses dalam mendidik anak-anak, pemuda, dan dewasa agar menjadi konsumen media yang kritis adalah New Mexico Media Literacy Project (NMMLP). Didirikan tahun 1993, NMMLP membantu ratusan ribu orang dari berbagai negara untuk meningkatkan skill media literacy. Misi NMMLP adalah menanamkan pemikiran kritis dan aktif dalam kultur media untuk membangun komunitas yang sehat dan adil.

Sebagai negara yang masih kategori negara berkembang, TV di Indonesia masih menjadi sumber informasi utama. Namun berbeda dengan di luar negeri, di Indonesia upaya menumbuhkan melek media masih sedikit mendapat perhatian. Pada tahun 2002, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dengan dukungan UNICEF melakukan upaya peningkatan melek media terhadap anak-anak Indonesia dengan strategi intervensi melalui jalur orang tua di rumah dan jalur guru di sekolah.

Dengan dukungan UNESCO, pada Desember 2004 Yayasan Pengembang Media Anak (YPMA) mengadakan pelatihan untuk 18 orang guru SD dan SMP di Jakarta, Bogor, Yogya, serta pada September 2005 pelatihan untuk 19 orang guru SD Islam Terpadu dan beberapa orang peninjau dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), UNJ, IISIP Jakarta. Pada 2006, UNICEF melanjutkan upaya tersebut dengan mendanai upaya pengembangan materi pelatihan dan penyiapan pembelajaran melek media baik sebagai mata pelajaran ekstrakulikuler maupun tersendiri pada YPMA.

Setelah mengikuti pelatihan yang diadakan YPMA, beberapa peserta pelatihan menerapkan pembelajaran media literacy di sekolah. Salah satunya adalah guru-guru Sekolah Dasar (SD) Islam Lentera Insan Child Development and Education Center (CDEC) Depok.

1.2. Permasalahan Penelitian
Pertanyaannya penelitian ini adalah bagaimana kemampuan melek media siswa-siswa yang yang mengikuti mata pelajaran media literacy di SD Lentera Insan. Dalam hal ini, jumlah siswa yang diteliti dibatasi lima anak.

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui berhasil tidaknya SD Lentera Insan dalam mendidik siswa-siswanya menjadi melek media.

1.4. Signifikansi Penelitian
1.4.1. Signifikansi Akademis
Penelitian ini berkaitan dengan mata pelajaran media literacy yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan, di mana ini masih menjadi ‘barang langka’ dalam pendidikan di Indonesia karena baru sedikit sekolah yang menerapkannya.

1.4.1. Signifikansi Praktis
Jika terbukti ada manfaat yang diperoleh dari pembelajaran media literacy di sekolah, maka ini dapat menjadi sesuatu yang layak direkomendasikan kepada sekolah-sekolah yang belum mengajarkan pelajaran media literacy. Upaya sistematis juga dapat dilakukan dengan mencontoh negara-negara lain, yaitu memasukkan pembelajaran media literacy ke dalam kurikulum pendidikan anak-anak sekolah. Oleh karena itu, peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menjadi masukan kepada Pemerintah untuk membuat kebijakan tersebut.

1.4.2. Signifikansi Sosial
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan kepada masyarakat tentang arti pentingnya media literacy.

1.5. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini masih jauh dari sempurna. Keterbatasan penelitian ini adalah kurangnya keterampilan peneliti dalam memahami kemampuan kognitif dan psikologis anak-anak (informan) dan kurangnya pemahaman peneliti tentang konsep mata pelajaran media literacy.

2. Kerangka Konsep
2.1. Media Literacy (Melek Media)
Dahulu, kita hanya membutuhkan kemampuan literacy yang hanya mencakup kemampuan bahasa tertulis – membaca dan menulis. Kita disebut sebagai seorang yang literate jika mempunyai kemampuan untuk berbicara, membaca, dan menulis (Garton & Pratt, 1998: 1-2). Namun sekarang, informasi tentang apapun telah datang menerpa kita tidak hanya dari media cetak. Sekarang jenis media sudah bertambah, meliputi cetak, fotografi, film, radio, dan TV. Era audio visual telah membawa kita pada dunia yang dipenuhi berbagai image, kata, dan suara. Kalau dalam istilah Potter (2005), sekarang budaya kita adalah sebuah supermarket raksasa pesan-pesan media. Bahkan pesan-pesan media jumlahnya jauh melebihi jumlah produk yang ada di supermarket (Potter, 2005: 3). Menghadapi ini semua, maka, seperti kata pakar komunikasi massa Silverblatt’s (1995), definisi literacy sekarang harus diperluas (Baran & Davis, 2000: 359). Bukan sekedar literacy, tapi media literacy.

Rubin (1998, p.3) menjelaskan tiga definisi media literacy. Pertama, definisi media literacy dari National Leadership Conference on Media Literacy, yaitu kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan. Kedua, definisi dari pakar media Paul Messaris, yaitu pengetahuan tentang bagaimana fungsi media dalam masyarakat. Ketiga, definisi dari peneliti komunikasi massa, Justin Lewis dan Sut Jhally, yaitu memahami budaya, ekonomi, politik, dan pemaksaan teknologi dalam menciptakan, memproduksi, dan mentranmisi pesan (Baran & Davis, 2000: 358).

Sedangkan Silverblatt’s (1995) mengidentifikasikan lima elemen media literacy (Baran & Davis, 2000: 359):
1. Kesadaran akan dampak media massa pada individu dan masyarakat.
2. Pemahaman terhadap proses komunikasi massa.
3. Pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media.
4. Kesadaran isi media sebagai teks yang memberikan masukan bagi budaya kontemporer dan diri kita..
5. Pengolahan rasa senang kepada media, pemahaman, dan penghargaan akan isi media.

2.2. Mata Pelajaran Media Literacy di Sekolah Dasar
Mata Pelajaran Media Literacy adalah mata pelajaran yang tujuan inti pengajarannya agar siswa menjadi kritis dalam menggunakan media (melek media). Menurut Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), dengan diajarkannya media literacy di sekolah, siswa menjadi memahami pentingnya membatasi dan memilih akses terhadap media, serta tidak akan menerima begitu saja apa yang disajikan oleh media. Dampak negatif menonton TV pada anak-anak, menurut YPMA tidak akan terjadi jika anak-anak memiliki ketrampilan berinteraksi dengan TV.

2.3. Anak-anak
Masa anak-anak terjadi pada usia 2 tahun sampai antara 12 atau 14 tahun. Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembangan dengan baik atau tidak ialah melalui apa yang oleh Havinghurst (1953) disebut tugas-tugas dalam perkembangan (developmental tasks). Mengenai ini Havinghurst merumuskan bahwa developmental tasks adalah tugas-tugas yang timbul pada atau kira-kira pada masa perkembangan tertentu dalam kehidupan seseorang yang bilamana berhasil akan menimbulkan kebahagiaan dan akan diharapkan berhasil pada tugas perkembangan berikutnya. Tugas-tugas perkembangan ini bersumber pada tiga hal, yaitu kematangan fisik, rangsangan atau tuntutan dari masyarakat, dan norma pribadi mengenai aspirasi-aspirasinya. Tugas-tugas perkembangan pada kelompok umur 6-12 tahun adalah (Gunarsa, 1981: 63, 2004: 12):
§ Belajar ketrampilan fisik untuk permainan biasa.
§ Membentuk sikap sehat mengenai dirinya sendiri.
§ Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya.
§ Belajar peranan jenis sesuai jenisnya.
§ Membentuk ketrampilan dasar; membaca, menulis, dan berhitung.
§ Membentuk konsep-konsep yang perlu untuk kehidupan sehari-hari.
§ Membentuk hati nurani, nilai moral, dan nilai sosial.
§ Memperoleh kebebasan pribadi.
§ Membentuk sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.


Televisi secara tidak langsung ikut mengambil peranan dalam pemenuhan tugas-tugas perkembangan tersebut (YPMA, 2006). Pada tahap middle childhood, banyak aspek perilaku dibentuk melalui penguatan (reinforcement) verbal, keteladanan, dan identifikasi (Gunarsa dan Gunarsa, 2004: 12).

3. Metodologi Penelitian
3.1. Paradigma Penelitian
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah konstruktivisme. Menurut paradigma konstruktivisme data bersifat subyektif, berdasarkan pandangan pihak yang diteliti. Mereka yang diteliti diperlakukan sebagai subyek penelitian yang mempunyai pandangan tertentu atas apa yang menjadi perhatian si peneliti. Dengan demikian, data dalam paradigma konstruktivisme haruslah dapat mencerminkan apa yang dirasakan dan ingin disampaikan oleh subyek penelitian (Hamad, 2005 dalam Thesis, 2005: 3).

3.2. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya (Strauss dan Corbin, 2003: 4). Penelitian kualitatif menggunakan data kualitatif, yaitu informasi yang berbentuk kata, gambar, image visual, atau objek (Newman, 2003).

3.3. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif. Menurut Poerwandari (2005), dalam penelitian kualitatif memang dapat secara sengaja dilakukan dengan tujuan deskripsi. Namun bukan berarti penelitian tersebut lebih rendah dari ukuran ilmiah. Ini karena pendekatan kualitatif meyakini bahwa tiada suatu teori dapat dibangun bila tidak melewati tahapan deskripsi data.

3.4. Metode Pengumpulan Data
Prosedur pengambilan data pada penelitian ini adalah dengan pengambilan sampel homogen. Tujuan pengambilan sampel homogen adalah agar peneliti dapat mendeskripsikan kelompok tertentu secara mendalam (Patton, 1990 dalam Poerwandari, 2005). Kelompok tertentu yang peneliti maksud adalah siswa SD Lentera Insan dan orangtua siswa yang mempunyai homogenitas dalam hal pendidikan orang tua, status ekonomi, dan agama. Sedangkan metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini ada tiga macam, observasi, wawancara, dan dokumen. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan 5 informan yang merupakan siswa kelas 2 yang telah mendapatkan mata pelajaran media literacy di SD LI selama satu tahun. Peneliti juga mewawancarai orang penting (significant other) informan, dalam hal ini ibu-ibu siswa yang menjadi informan.

3.5. Pemilihan Informan
Dalam memperoleh informan, peneliti menggunakan purposeful sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang harus disesuaikan dengan masalah dan tujuan penelitian. Informan dipilih siswa kelas 2 karena pada umumnya mereka berusia sekitar 7-8 tahun. Kriteria kelima informan siswa tersebut adalah:
Anak perempuan; Ayah dan Ibu bekerja di kantor.
Anak perempuan; Ayah bekerja di kantor; Ibu di rumah.
Anak perempuan; Ayah bekerja di kantor; Ibu di rumah.
Anak laki-laki; Ayah dan Ibu bekerja di kantor.
Anak laki-laki; Ayah bekerja di kantor; Ibu di rumah.

3.6. Metode Analisis Data
Sebagai dasar analisis penelitian ini, peneliti menggunakan analisis tematik. Penggunaan analisis tematik memungkinkan peneliti menemukan ‘pola’ yang pihak lain tidak melihatnya secara jelas. (Poerwandari, 2005: 151).

3.8. Kualitas Penelitian
Penelitian kualitatif mengembangkan prinsip-prinsip yang berbeda tentang fenomena sosial. Oleh sebab itu, para peneliti menyarankan digunakan istilah-istilah alternatif yang lebih merefleksikan paradigma kualitatif, yaitu (Poerwandari, 2005: 180-189):
Kredibilitas, Bukan Validitas
Kredibilitas terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah, atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, ataupun pola interaksi yang kompleks.
Transferabilitas, Bukan Generalisasi
Transferabilitas artinya sejauh mana temuan suatu penelitian yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu dapat diaplikasikan pada kelompok lain.
Dependability, Bukan Reliabilitas
Peneliti kualitatif menganggap ada hal yang lebih penting, antara lain (1) koherensi, yaitu metode yang dipilih memang untuk tujuan yang diinginkan, (2) keterbukaan, yaitu peneliti membuka diri untuk menggunakan metode-metode yang berbeda untuk mencapai tujuan, (3) diskursus, yaitu sejauh mana dan seintensif apa peneliti mendiskusikan temuan dan analisisnya dengan orang lain (Sarantakos, 1993).
Konfirmabilitas, Bukan Objektivitas
Hal yang lebih penting adalah objektivitas dalam pengertian transparansi, yakni kesediaan peneliti mengungkapkan secara terbuka proses dan elemen-elemen penelitiannya, sehingga memungkinkan pihak lain melakukan penilaian.

4. Profil Informan dan Gambaran Umum Mata Pelajaran Media Literacy
4. 1. Profil Informan
Ada lima belas informan dalam penelitian ini, yaitu 5 guru SD Lentera Insan yang pernah mengajar mata pelajaran media literacy, 5 siswa kelas dua, dan 5 orangtua siswa tersebut. Guru yang menjadi informan penelitian ini adalah yang pernah mengajar mata pelajaran media literacy.

Informan siswa dalam penelitian ini adalah AR, BR, AP, MJ, dan MM. Mereka berusia antara 7 – 8 tahun, berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah atas. Ibu AR adalah ibu rumah tangga yang sedang menyelesaikan S2. Dalam keluarga, Ibu AR menerapkan nilai-nilai demokratis. Ibu AR menghargai kebebasan anak, tetapi juga berusaha menjaga agar tetap sesuai dengan nilai-nilai sosial.

Ibu BR berpendidikan S1 Ilmu Ekonomi dan bekerja di Departemen Pertahanan. Ibu BR mengikutsertakan BR ke kegiatan-kegiatan alternatif yang BR sendiri sukai. Ibu BR menerapkan nilai-nilai demokratis dalam keluarga. Dalam hal menonton TV misalnya, BR mendapat kebebasan menentukan jumlah jam menonton. Ibu BR hanya memberi arahan bahwa menonton di hari sekolah harus lebih sedikit dibanding menonton di hari libur dan tidak boleh lupa belajar.

Ibu AP adalah seorang ibu rumah tangga yang berpendidikan D3 sekretaris. Dalam keluarga, Ibu AP menerapkan pola kepemimpinan otoriter (authoritarian) dan demokratis (authoritative). Peraturan, pelarangan, dan kontrol dari orangtua untuk anak memang ada dan berlaku ketat, namun tetap ada ruang kebebasan yang dapat dinikmati anak. Orangtua AP melarang anak-anaknya bermain play station, tapi orangtua mengizinkan bermain play station portable (PSP). Peraturan yang dibuat oleh orangtua dalam keluarga AP, menurut ibu AP, bukan berarti murni hanya untuk anak-anak, tapi konsekuensinya juga orangtua harus mentaati peraturan yang dibuat. Misalnya dalam hal melarang menonton TV, konsekuensinya adalah ibu AP pun jarang menonton TV.

Ibu MJ berpendidikan S1 dan saat ini masih bekerja di luar rumah (swasta). Dalam keluarga, ibu MJ menerapkan kepemimpinan permisif (permisive) dan demokratis (authoritative). Berbeda dengan keluarga AP yang ada peraturan yang dikontrol ketat, dalam keluarga MJ ini tidak dijumpai hal-hal tersebut. MJ mendapat kebebasan untuk memilih dan melaksanakan aktivitas.
Ibu MM adalah seorang ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan S1 Akuntansi. Sama seperti ibu AP, ibu MM juga menerapkan pola kepemimpinan otoriter (authoritarian) dan demokratis (authoritative). Peraturan, pelarangan, dan kontrol dari orangtua untuk anak memang ada dan berlaku ketat, namun tetap ada ruang kebebasan yang dapat dinikmati anak. Ada jadwal yang diberlakukan Ibu MM kepada anak-anaknya.

4.2. Gambaran Umum Mata Pelajaran Media Literacy
Penyelenggara mata pelajaran media literacy adalah Sekolah Dasar (SD) Islam Lentera Insan Child Development and Education Center (CDEC). Media Literacy diajarkan kepada kelas satu dan dua dengan durasi dua minggu sekali selama 30 menit. Satu-satunya dokumen yang penulis peroleh untuk mempelajari kurikulum mata pelajaran media literacy di SD Lentera Insan adalah dokumen Thematic Unit Kegiatan SD Lentera Insan.

Penulis melihat ada tiga pola pengajaran mata pelajaran media literacy di SD Lentera Insan, yaitu pengajaran media literacy menyesuaikan dengan kebutuhan siswa, pengajaran media literacy menyesuaikan tren yang sedang terjadi, pengajaran media literacy menyesuaikan atau diintegrasikan dengan tema besar pada Thematic Unit Kegiatan.

Dalam Profil Sekolah Ananda Sekolah Dasar Lentera Insan Tahun Ajaran 2006-2007 disebutkan bahwa dalam pembelajaran media literacy:
-Siswa akan dibimbing untuk mendapat pemahaman yang proporsional terhadap media, khususnya televisi.
-Siswa akan diajak menonton klip atau potongan tayangan TV atau film dan mengkritisinya.
-Siswa akan dibimbing memahami adegan yang fiktif, peran tokoh yang dapat dicontoh, peran tokoh jahat yang tidak perlu diikuti, jenis tayangan yang sesuai dengan usia siswa, sampai membangun kesadaran siswa tentang lamanya menonton TV.

Menurut para pengajar, tujuan yang paling mendasar dari pengajaran setiap materi, yaitu siswa dapat memilih tayangan sendiri yang sesuai dengan usia mereka dan mengetahui maksud (isi) tayangan yang mereka tonton.

5. Kemampuan Melek Media Pada Siswa-Siswa
Berdasarkan tujuan pengajaran media literacy di SD Lentera Insan tahun ajaran 2006-2007, kemampuan melek media yang diinginkan ada pada siswa adalah dalam bentuk munculnya sikap kritis dalam berinteraksi dengan televisi dan penguasaan skill (kemampuan) memilih antara tayangan yang baik dan buruk. Pada penelitian ini, kelima informan sudah menunjukkan adanya kemampuan melek media tersebut.

5.1. Informan 1: AR
AR menunjukkan sikap kritisnya dengan berpendapat bahwa tayangan tertentu mengandung unsur rekayasa, iklan mengandung unsur persuasif, dan televisi membawa dampak tertentu terhadap anak-anak. AR juga mampu memberikan memberikan pendapat tentang tayangan yang ditonton.


Menurut AR, rekayasa atau adegan-adegan bohongan ada pada adegan seperti pukul-memukul dalam film Ultramen atau Power Rangers (Indosiar) dan orang yang berdarah-darah atau mati.
AR juga mengakui adanya dampak imitasi (peniruan) perilaku yang ditampilkan oleh TV. Misalnya, perilaku suka terhadap lawan jenis yang diungkapkan secara terang-terangan oleh teman sekolahnya merupakan dampak dari menonton sinetron Intan (RCTI) dan Cinderalela (SCTV).


AR mengklasifikasikan tayangan menjadi tiga, tayangan baik, tidak baik, dan bersyarat. Tayangan baik menurut AR adalah yang isinya menceritakan tokoh yang baik hati, suka menolong, atau tentang kebaikan melawan kejahatan. AR memberikan contoh Casper, Dora The Explorer (Global TV), dan Chalkzone (Global TV) yang tokoh-tokoh utamanya suka menolong. Film kartun yang dari segi isi tidak baik ditonton adalah yang mengajarkan hal-hal buruk, seperti Doraemon (RCTI). Menurut AR, film Doraemon tidak baik ditonton anak-anak karena isinya mengajarkan anak-anak untuk selalu berharap-harap permintaannya dituruti (seperti karakter tokoh utama, Nobita yang selalu merengek-rengek kepada Doraemon). Menurut AR, memang sinetron dewasa tidak baik untuk anak-anak, tapi ada yang boleh ditonton, seperti Intan (RCTI). Sinetron tersebut boleh ditonton karena karakter kuat tokoh utama sinetron tersebut adalah suka menolong tanpa harus disuruh. Namun, menurut AR, anak-anak yang boleh menonton adalah seperti dirinya yang tidak suka meniru “adegan orang dewasa” atau adegan pacaran yang ditampilkan.

5.1. Informan 2: BR
Menurut BR, tayangan kekerasan seperti SmackDown hanya rekayasa dan berpotensi untuk ditiru anak-anak yang tidak mengetahui bahwa itu rekayasa. Orang-orang dalam SmackDown mendapat pelatihan terlebih dahulu. BR memahami bahwa iklan ditayangkan untuk membujuk penonton untuk membeli produk tersebut sehingga produknya laku. Caranya dengan memberikan informasi tentang manfaat produk atau dengan mengiming-imingi hadiah.
Dampak negatif dan positif menonton TV terhadap anak-anak diakui ada oleh BR. Menurutnya, dampak positif menonton TV adalah dapat menambah pengetahuan. Sedangkan dampak negatifnya adalah adanya peniruan perilaku, kata-kata, dan gaya berpakaian.
BR juga menonton tayangan komedi yang sedang populer, Ekstravaganza. Selain karena isinya yang lucu, tayangan ini juga punya potensi besar ditonton informan karena ditayangkan pukul 19.00 dan salah satu waktu tayangnya adalah hari di mana anak-anak libur sekolah (sabtu malam). Namun, menurut BR ada syarat yang harus dipenuhi anak-anak yang menonton Ekstravaganza. Syaratnya adalah tidak boleh menirukan gaya pemainnya (misal laki-laki memakai baju perempuan) dan anak-anak harus didampingi orangtua. Kalau orangtua tidak bisa mendampingi, anak harus minta izin orangtua sebelum menonton.

5.2. Informan 3: AP
Menonton TV, menurut AP berdampak pada keengganan anak-anak untuk melakukan aktivitas yang seharusnya dikerjakan. AP memberikan contoh anak-anak yang tidak AP membedakan suatu tayangan menjadi dua, yaitu tayangan baik dan tayangan tidak baik. Film kartun yang dipandang baik untuk anak-anak adalah Avatar: The Legend of Aang. Menurut AP tayangan itu baik karena faktor kualitas gambar yang bagus. Berbeda dengan AR, film Chalkzone juga dipandang baik oleh AP bukan karena tokohnya, namun karena imajinasi yang dibangun dalam film tersebut. Menurut AP, imajinasi tersebut boleh karena dalam kehidupan sehari-hari pun diperlukan. Misal, jika anak-anak merasa bosan di dalam rumah, dia bisa membangun imajinasi apa yang akan dilakukan di luar rumah untuk mengatasi kebosanan.

5.3. Informan 4: MJ
MJ juga mengetahui bahwa ada adegan-adegan dalam suatu tayangan ada yang hanya rekayasa, misal orang yang pukul-pukulan sampai berdarah-darah. Menurut MJ, dampak negatif menonton TV adalah adanya peniruan perilaku yang ada di TV. Tayangan yang berbahaya dan potensial ditiru anak-anak adalah tayangan yang berisi kata-kata-kata kasar dan film-film yang pemainnya memakai pakaian tidak sopan.


MJ suka menonton Spongebob Squarepants (Global TV). Menurut MJ, kata-kata dalam Spongebob Squarepants memang tidak baik untuk anak-anak, tapi masih ada hal-hal baik untuk anak-anak yaitu menampilkan tokoh yang pintar (Pattrick) dan ada pertunjukkan musiknya. The Adventure of Jimmy Neutron: Boy Genius (Global TV) juga menjadi tontonan favorit MJ. Menurut MJ film kartun tersebut baik karena tokohnya jenius dan suka mengajak berhitung (perkalian).


Menurut MJ, tayangan yang baik untuk anak-anak adalah yang menampilkan tokoh yang pintar dan dapat menghibur. Spongebob Squarepants dan The Adventure of Jimmy Neutron: Boy Genius (Global TV) menurut MJ adalah contoh tayangan yang baik untuk anak-anak karena menampilkan musik dan sisi pintar tokoh.


Tayangan yang tidak baik untuk anak-anak menurut MJ adalah tayangan yang kata-katanya kasar dan pakaiannya tidak sopan. MJ memberikan contoh film Spongebob Squarepants (Global TV) yang menurutnya ada sisi tidak baik yaitu kata-kata yang bernada merendahkan orang lain (membodoh-bodohi). Iklan produk yang khusus untuk orang dewasa dan muatannya jorok juga masuk dalam kategori tayangan tidak baik untuk anak-anak. MJ menyebutkan iklan Kamasutra sebagai salah satu contohnya.

5.4. Informan 5: MM
Sikap kritis MM ditunjukkan dengan kemampuan MM memberikan pendapat tentang tayangan yang ditonton. Pada awalnya, film kartun yang rutin ditonton MM adalah Wings Club (Indovision). Namun, kemudian MM mengganti rutinitasnya dengan menonton film kartun Saolin Show Down (Indovision). Hal ini disebabkan dari segi penampilan tokoh, film Wings Club tidak baik karena pemain perempuannya berpakaian tidak sopan (seksi).


Menurut MM, tayangan yang baik adalah yang bercerita tentang kebaikan melawan kejahatan. Film kartun Saolin Show Down (Indovision) termasuk tayangan yang baik karena cerita film tersebut tentang pahlawan pembela kebenaran. Jenis tayangan baik lainnya adalah film dokumenter. Parameter yang digunakan untuk menilai baik tidaknya film dokumenter tersebut adalah dari segi isinya, apakah berisi tentang kebaikan dan pengetahuan atau tidak.

6. Kesimpulan Penelitian
6.1. Diskusi
6.1.1. Kesesuaian Mata Pelajaran Media Literacy SD Lentera Insan dengan Konsep Media Literacy dan Perkembangan Anak

Di sini kita dapat melihat bahwa materi mata pelajaran media literacy pada SD Lentera Insan selaras dengan konsep media literacy menurut Silverblatt’s (1995). Dalam konsep tersebut, Silverblatt’s (1995) menyebutkan ada lima elemen media literacy, yaitu sadar akan dampak media, memahami proses komunikasi, mengembangkan strategi menganalisis dan mendiskusikan pesan media, sadar akan pengaruh media pada budaya kontemporer dan individu, serta menghargai isi media.


Sebagian elemen tersebut sudah tercakup dalam mata pelajaran media literacy. Dengan memberikan materi tentang dampak televisi, para siswa diajak untuk menyadari dampak televisi dan pengaruh televisi. Dalam konsep Silverblatt’s, dikatakan bahwa elemen media literacy adalah menyadari dampak media massa terhadap masyarakat dan individu. Karena menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan berpikir para siswa yang rata-rata baru 7 tahun, penanaman kesadaran akan dampak media massa baru sebatas pada media tertentu, yaiu televisi.


Elemen berikutnya, yaitu kesadaran isi media sebagai teks yang memberikan masukan bagi budaya kontemporer dan diri kita, juga sudah mulai disisipkan dalam mata pelajaran media literacy. Para siswa diajak untuk memahami bahwa suatu tayangan, iklan, atau komedi, berandil membentuk perilaku, nilai, sikap, atau pola pikir yang pada akhirnya membentuk budaya.


Pada semester dua, penekanan pembelajaran media literacy adalah pada munculnya kemampuan memilih tayangan. Para siswa diajak untuk mendiskusikan mana tayangan yang baik dan mana tayangan yang tidak baik untuk anak-anak. Hal ini selaras dengan konsep media literacy Silverblatt’s, yaitu elemen media literacy mencakup pengembangan strategi menganalisis dan mendiskusikan pesan media.


Pada saat anak usia 7 tahun, yang dikenal dengan age of reason, anak-anak mempunyai potensi yang sudah selayaknya diarahkan. Mulai usia tersebut, anak-anak dapat menghubungkan satu sama lain yang berbeda, dapat meletakkan cara pandang orang lain, berkomunikasi, dan berpendapat. Mereka dapat membandingkan apa yang mereka dengar dan lihat dengan apa yang mereka tahu (Gurian & Formanek, 1983 : 65-66). Dalam hal ini, pemberian mata pelajaran media literacy dapat membantu mengarahkan potensi tersebut. Anak-anak akan dipandu untuk mengevaluasi tayangan dengan membandingkan apa yang mereka tonton dengan pengetahuan tentang baik dan buruknya suatu tayangan yang telah mereka pahami.


Kemampuan berpikir yang diperlihatkan anak-anak usia age of reason juga merupakan modal untuk mencapai skill media literacy. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan berpendapat. Seperti yang dikatakan Silverblatt’s, bahwa salah satu elemen media literacy adalah kemampuannya untuk mengevaluasi pesan dan mengkomunikasikannya (Baran & Davis, 2000: 359). Dengan metode pengajaran media literacy yang lebih banyak berdiskusi atau menyampaikan pendapat tentang suatu tayangan, maka dapat dikatakan bahwa mata pelajaran tersebut memang layak diberikan untuk anak-anak.

6.1.2. Kemampuan Melek Media Pada Siswa
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pengajaran mata pelajaran media literacy telah berhasil. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap kritis para informan terhadap tayangan dan skill dalam memilih tayangan yang baik dan tidak baik untuk anak-anak. Kekritisan informan ditampilkan dengan kemampuan berpendapat bahwa tayangan tertentu mengandung unsur rekayasa, iklan mengandung unsur persuasif, televisi membawa dampak tertentu terhadap anak-anak, dan mampu memberikan memberikan pendapat tentang tayangan yang ditonton. Dengan seperti itu, berarti informan tidak menerima begitu saja apa yang disajikan oleh TV.
Para informan yang rata-rata usianya 7 tahun ini mampu mengkomunikasikan hasil evaluasinya kepada orang lain (secara lisan). Dalam mengevaluasi program TV, para informan mengklasifikasi tayangan menjadi tiga macam, yaitu tayangan baik untuk anak-anak, tayangan tidak baik, dan tayangan bersyarat. Pada umumnya, evaluasi yang disampaikan oleh para informan adalah seputar content atau isi tayangan.

6.1.3. Partisipasi Keluarga Dalam Menanamkan Melek Media Pada Anak
Selain mata pelajaran media literacy, keluarga juga ikut berperan dalam menanamkan melek media pada anak-anak. Latar belakang keluarga informan yang beragam menyebabkan perilaku anak-anaknya juga beragam. Peran orangtua yang jelas terlihat adalah dalam pemberian kesempatan untuk mengakses TV. Inilah yang mempengaruhi jumlah jam menonton para informan.


Dalam keluarga para informan juga ditemukan adanya mediasi orangtua pada saat anak-anaknya menonton TV. Mediasi coviewing (orangtua ikut menonton bersama anak-anak) dilakukan oleh semua orangtua informan, namun intensitasnya berbeda-beda. Informan yang ibunya tidak bekerja di luar rumah (ibu rumah tangga) mendapat mediasi coviewing lebih sering dibanding informan yang ibunya bekerja di luar rumah.

6.2. Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa SD Lentera Insan berhasil menanamkan kemampuan melek media pada para peserta didiknya. Indikasinya adalah munculnya sikap kritis anak-anak terhadap suatu tayangan dan skill memilih tayangan. Sikap kritis para siswa ditunjukkan dengan berpendapat bahwa tayangan tertentu mengandung unsur rekayasa, iklan mengandung unsur persuasif, televisi membawa dampak tertentu terhadap anak-anak, dan mampu memberikan memberikan pendapat tentang tayangan yang ditonton. Skill memilih tayangan ditunjukkan dengan kemampuan para siswa dalam membedakan antara tayangan yang baik, tidak baik, dan bersyarat.

6.3. Rekomendasi
Bertolak dari penelitian ini, penulis ingin memberikan rekomendasi kepada para akademisi, institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat.
1. Akademisi
Bagi yang ingin melanjutkan penelitian ini, penulis sarankan untuk menggunakan metode kuantitatif untuk membandingkan kemampuan melek media antara siswa yang mendapat mata pelajaran media literacy dengan siswa yang tidak mendapat mata pelajaran tersebut.
2. Institusi Pendidikan
Bagi sekolah yang belum menyelenggarakan mata pelajaran media literacy, penulis sarankan untuk mulai merencanakan karena mata pelajaran media literacy bermanfaat untuk menumbuhkan kesadaran dalam bersikap kritis dan berinteraksi secara sehat dengan televisi.
3. Pemerintah
Indonesia adalah negara berkembang yang masyarakatnya masih bergantung pada TV. Oleh sebab itu, pencerdasan tentang interaksi yang sehat dengan TV perlu dilakukan secara sistematis. Misalnya dengan memasukkan mata pelajaran media literacy ke kurikulum pendidikan nasional. Namun, tentunya dengan memperhatikan aspek kesiapan materi, kurikulum, dan pengajar.
4. Masyarakat.
Pembatasan jam menonton TV yang dilakukan orangtua kepada anak-anaknya adalah hal yang sangat perlu. Pembatasan ini perlu disertai dengan penyadaran mengapa jam menonton perlu dibatasi.



DAFTAR REFERENSI
Buku
Baran, Stanley J. & Dennis K Davis. (2000). Mass Communication Theory. 2nd ed. Canada: Wadsworth.
Brown, Ray, ed. (1976). Television and Children. California: SAGE Publication.
Garton, Alison & Chris Pratt. (1998). Learning to be Literate: The Development of Spoken and Written Language. 2nd ed. Oxford: Blackwell Publishers. a
Gunarsa, Singgih D. (1981). Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: Gunung Mulia.
Gunarsa, Singgih D. & Y. Singgih D. Gunarsa. (2004). Psikologi Praktis: Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gurian, Anita & Ruth Formanek. (1983). The Socially Competent Child: A Parent’s Guide to Social Development from Infancy to Early Adolescene. USA: Houghton Mifflin Company.
Kaye, Evelyin. (1979). The ACT Guide to Children’s Television. (Revised Edition). USA: Beacon Press.
Loudan, David L. & Albert J. Della Bitta. (1993). Consumer Behavior. 4th ed. Singapura: McGraw-Hill.
Mulyana, Deddy & Isi Subandi Ibrahim, ed. (1997). Bercinta dengan Televisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Neuman, W. Lawrence Neuman. (2003). Social Method Research Qualitative and Quantitative Approach. 5th ed. USA: Pearson Education.
Patton, Michael Quinn. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods. London: SAGE Publication.
Poerwandari, E. Kristi. (2005). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Depok: Perfecta.
Potter, W. James. (2005). Media literacy. 3rd ed. London : SAGE Publication.


Artikel
Considine, David. “What is Media Literacy and why do you need it?” The Journal of Media Literacy. Volume 41, Number 2, 1995. http://www.ced.appstate.edu/departments/ci/programs/edmedia/medialit/article.html diakses 10 Februari 2007, pukul 13.38.
Hobbs, Renee. “The Acquisition of Media Literacy Skills Among Australian Adolescents.” Journal of Broadcasting and Electronic Media. http: interact.uoregon.edu/medialit/JCP/articles_mlr/hobbs/Australia.html// (diakses 9 Mei 2007 pukul 17.05).
Komnas PA: Stop Penanyangan Acara 'Smackdown'.” http://www.kapanlagi.com/h/0000145860.html diakses 24 Desember 2006 pukul 14.15.
“Media Literacy: The Purposes and Rationale” http://www.ced.appstate.edu/departments/ci/programs/edmedia/medialit/brochure2.html. (diakses 10 Februari 2007, pukul 13.36).
S., Livingstone, Van Couvering E., & Thumim N. “Adult Media Literacy: A Review of the Research Literature.”
http://www.ofcom.org.uk/consumer_guides/media_literacy/Medlitpub/aml.pdf (diakses 14 Februari 2007).


Majalah
Parents Guide. Vol III. No.9/Juni 2005.

Skripsi
Noviana, Irma Noor. 1991. “Atensi Anak Usia 6 tahun sampai 12 tahun terhadap penyajian iklan di TV 3 Malaysia: Studi Deskriptif Terhadap Anak-Anak yang terkena Dampak Perluasan Wilayah Siaran dari TV 3 Malaysia di Wilayah Rumbai Sumatra). FISIP UI.
Rahmani, Inaya. 2004. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jenis Mediasi Orangtua untuk Televisi.” FISIP UI.

Jurnal
Pinckey, Triputra. “Dilema Industri Penyiaran di Indonesia.” Thesis. Volume IV/No.1 Januari-April 2005. FISIP UI.

Diktat
Pembelajaran Melek Media di Sekolah Dasar. (2006). Jakarta: Yayasan Pengembangan Media Anak.




[1]Komnas PA: Stop Penanyangan Acara 'Smackdown'.” http://www.kapanlagi.com/h/0000145860.html diakses 24 Desember 2006 pukul 14.15.
[2]“Media Literacy: The Purposes and Rationale,” http://www.ced.appstate.edu/departments/ci/programs/edmedia/medialit/medialit_purposes.html diakses 10 Februari 2007 pukul 13.36.
[3]Renee Hobbs. “Acquisition of Media Literacy Skills Among Australian Adolescents.”
Journal of Broadcasting and Electronic Media.
http://interact.uoregon.edu/mediaLit/JCP/articles_mlr/hobbs/australia.html diakses 9 Mei 2007 pukul 17.05.

nb: ni sebenernya skripsiku... trus jurusanku minta aku meringkas buat dimuat di Jurnal Thesis Komunikasi UI. hehe... asyiiik dpt honor. lumayan lhoo :)