Pria-Pria Pakistan

Dahulu....
Tiga tahun lalu.....

Seorang mahasiswa Indonesia membonceng sepeda mahasiswa Pakistan. Dia menghadap ke depan.

Pakistani : Kamu kenapa hadap depan? 
Indonesian : Lho, memang kenapa? 
Pakistani : Aneh... nanti dilihat orang-orang....

Jadi mahasiswa Indonesia itu mengubah posisi duduknya, hadap samping.

Indonesian : Di Indonesia kalau ada pria duduk hadap samping begini malah aneh, dilihat orang-orang.....

Hmmm, beda tradisi memang.

Selain soal posisi duduk saat bonceng sepeda, cara menyeberang jalan juga berbeda.

Suatu saat mahasiswa Indonesia itu akan menyeberang jalan raya. Kawannya, mahasiswa Pakistan, menggandengnya.

Indonesian : Woy..., kenapa gandeng tangan saya?
Pakistani : Kita akan menyeberang
Indonesian : Kalau di Indonesia, aneh pria-pria menyeberang jalan bergandengan....
Pakistani : Di sini seperti ini....

Lagi-lagi soal tradisi. Hehehe.

Maka, tradisi Pakistan yang memisahkan pergaulan laki-laki dan perempuan akhirnya membentuk pola pergaulan tersendiri antara pria.

Saya sering melihat pria-pria muda Pakistan yang akrab, mereka berpelukan sangat lama di pinggir jalan sambil tertawa riang. Saat berjalan, mereka bergandengan tangan. Hal yang paling aneh menurut saya sebagai orang Indonesia adalah ketika melihat pria-pria Pakistan ini di taman. Dua orang pria duduk di taman, satu pria duduk, satu lagi rebahan dengan posisi kepala di paha temannya.  Waowww.....!!!!. Kalau di Indonesia, mungkin kita akan menganggap mereka mempunyai kelainan orientasi seksual. Tapi di Pakistan, hal tersebut lumrah. Dan mungkin buat orang Pakistan yang melihat pergaulan pria dan wanita di Indonesia, di mana mereka berpelukan, berdekatan di ruang publik, itu adalah hal aneh.

Lagi-lagi ini soal tradisi. Perlu memahami sebelum kita berkomentar. 
Memahami perbedaan adalah sesuatu yang indah luar biasa.




Pakistan Houswife Diary (PhD), musim gugur 2015