Simbiosis Mutualisme di Bulan Ramadhan

Simbiosis mutualisme merupakan hubungan antara dua pihak yang saling menguntungkan. Dalam kehidupan, perbuatan yang saling menguntungkan sangat diperlukan karena mampu mewujudkan kehidupan yang damai, rukun, makmur, dan sejahtera.. Keuntungan yang didapat dari perbuatan itu juga akan menjadi sumber energi dan motivator pelaku perbuatan untuk senantiasa konsisten dengan perbuatannya.

Di bulan Ramadhan, banyak sekali bentuk-bentuk simbiosis mutualisme. Sebagai contoh memberi makanan berbuka. “Barangsiapa yang memberikan makanan berbuka bagi yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang sedang berpuasa dan yang berpusa itu tidak dikurangi pahalanya sedikitpun” (HR Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban). Dalam hadist lain disebutkan bahwa, “Setiap perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya 10 kali lipat sampai 700 kali lipat…” (HR At Tirmidzi).


Di saat harga BBM sedang naik, yang berimbas pada melambungnya harga-harga bahan makanan, adanya buka puasa gratis sangat membantu saudara-saudara kita yang ingin meminimalisir pengeluaran. Misalkan saja, untuk membeli makanan berbuka seseorang memerlukan Rp 5000,00. Jika dia mendapat makanan berbuka gratis selama Ramadhan, otomatis dia akan untung karena bisa menghemat Rp 150.000,00. Sedangkan yang memberi makanan berbuka bisa mendapat banyak untung: mendapat pahala orang yang berpuasa dan dilipatgandakan pahalanya. Kalau misalnya kita memberi makanan berbuka sebesar Rp 5.000,00, kalau Allah berkehendak maka amal kita akan dinilai sebesar 5.000 x 700 atau Rp 3.500.000,00. Jika diibaratkan sedang berbisnis, dengan modal Rp 5.000 dan untungnya Rp 3.500.000 ini tentu sangat menggiurkan.


Persoalan pahala, manusia memang hanya bisa memprediksi agar muncul motivasi untuk beramal. Namun, Allah sudah menjamin hal ini dalam QS Al Baqarah ayat 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir ada seratus biji, Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui”. Perhitungan Allah tentu jauh lebih baik. Apabila kita menginfakkan harta dengan niat hanya karena Allah, maka Allah akan membalas dengan yang lebih baik, dengan sesuatu yang tidak kita duga.


Masih banyak bentuk-bentuk simbiosis mutualisme yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Semakin sering kita melakukan, semakin untunglah kita. Kesalehan sosial kita pun semakin terasah. Rasulullah sudah berpesan kepada kita untuk memperbanyak perbuatan yang menguntungkan orang lain di bulan Ramadhan ini. Pada waktu menyambut Ramadhan, Rasulullah berkhutbah, “Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaanNya di hari Kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murkaNya pada hari ia berjumpa denganNya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memualiakanya pada hari ia berjumpa denganNya. Barangsiapa menyambungkan silaturahim dibulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmatNya pada hari ia berjumpa denganNya”.



Depok, Sari Tanjung II, 13 Oktober 2005

Aku cari-cari lagi fosil2 tulisanku di folder sent. Trus, nemu tulisan ini. Dulu pernah dikirim untuk rubrik HIKMAH di Republika. Kali ini ga salah kirim, karena kata redakturnya, rubrik Hikmah emang buat umum. Tapi kesalahan sekarang adalah: tulisanku ga layak muat. hahaha. Ya sudah, ditaroh di museum purbakala tulisanku ini aja ya (baca: blogspot). Moga2 bermanfaat lah ya... :)