phd : Hameed dan Hamidah

Sore itu, Hameed menyetir rikshaw (bajaj) sambil melihat-lihat ke arah kami. Dengan bahasa Urdu, Hamid bertanya,

"Kalian bukan orang Pakistan?"
"Nahi, Uncle"
"Dari negara mana?"
"Indonesia, Uncle"
"Acha...."

Hameed, dengan senyum sumringah, memulai kisah. Dia pernah bekerja di Dubai. Hidupnya semakin berwarna saat bertemu gadis Indonesia. 

"From Cianjur", Hameed mengingat kota gadis itu.

Bagai kisah dongeng, nama gadis itu mirip dengannya, Hamidah. Aih, Hameed tersenyum saat mengatakan nama dia. Darinya, Hameed mengenal sate dan bakso.

"Boghot tasty...", Hameed mengenang rasa kuliner Indonesia itu.

Dari Hamidah pula, Hameed mengenal kosakata Indonesia, misalnya apa kabar, baik, terimakasih, sama-sama.

Ada satu lagi kalimat Indonesia yang diingat Hameed, yaitu "AKU CINTA KAMU". Hamid mengatakannya sambil tertawa renyah. 

Tak terasa, kami sudah sampai didepan rumah. Perjalanan yang sungguh menghibur di musim panas ini. 

Di bawah kipas angin, sambil menyelonjorkan kaki, saya mencoba mencerna kisah Hameed dan Hamidah yang dipisahkan oleh habisnya kontrak kerja. Hameed pulang ke Lahore, menjadi sopir rikshaw. Hamidah, apa kabar dia di Cianjur? Hameed tak tahu.

Rasanya, seperti sebuah kisah cinta, yang menggebu-gebu lalu berakhir tangis. Saya pun melayang terbang ke Dubai, mencoba berkhayal apa yang terjadi diantara sepasang anak manusia bernama Hameed dan Hamidah. 


***