Seri Media & Anak (Part 5)

Totto, Melati, Clara, dan Buku Anak-Anak



Ada dua novel yang tak terlupakan bagi saya. Novel yang mengagumkan! Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela, karya Tetsuko Kuroyanagi dan Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye.

Totto, gadis cilik yang penuh rasa ingin tahu. Dia lebih senang berdiri dekat jendela saat kelas sudah dimulai. Gurunya tak tahan melihat tingkah Totto. Akhirnya, Ibu Totto memindahnya ke sebuah sekolah yang sangat menyenangkan. Kelasnya berbentuk kereta! Di sini, semua anak bebas mengungkapkan rasa ingin tahunya. Adegan yang paling tak terlupakan adalah saat Totto dan teman-temannya camping di halaman sekolah. Pada malam hari, mereka dibangunkan gurunya untuk melihat bagaimana gerbong kereta yang demikian besar diangkut untuk dijadikan ruang kelas. Pertanyaan Totto selama berhari-hari terjawab sudah. Totto ingin tahu bagaimana kereta dipindahkah ke halaman sekolahnya.

Sedangkan novel Tere Liye berkisah tentang Melati, gadis cilik malang. Di usia lima tahun, Melati mengalami kecelakaan saat bertamasya dengan orangtua dan para pembantunya. Melati pun kehilangan penglihatannya, pendengaranya, dan juga bisu. Dunia sama dengan kegelapan, bagi Melati. Kisah mengharu biru ini diilhami dari kisah nyata Hellen Adams Keller ini sangat menginspirasi betapa sudah semestinyalah cinta seorang Ibu diapresiasi. Melati mendapatkan kekuatan berkat kasih sayang orang-orang di sekitarnya, terutama Ibu.

Buku tentang anak-anak itu begitu menginpirasi saya. Sekali lagi, buku tentang anak-anak, bukan buku anak-anak. Mungkin, bisa dibilang saya kurang beruntung terkait dengan buku anak-anak. Masa kanak-kanak saya dihabiskan di desa nun jauh di kota. Masa itu, buku anak-anak belum begitu populer di telinga saya. Seingat saya, dahulu hanya majalah Ceria yang bisa saya baca setiap bulan. Itupun harus berebutan dengan kakak saya. Mendekati akhir masa SD, baru saya mengenal Bobo. Buku anak-anak yang saya baca? Memang ada, tapi isinya tidak begitu berkesan.

Namun begitu, saya bahagia sekarang. Meski baru menemukan buku anak-anaknya saat saya dewasa, setidaknya saya bisa lega sekarang. Buku anak-anak saat ini jauh lebih bagus dari jaman saya kanak-kanak. Contoh kecil, buku Melukis Cinta karya Clara Ng. Begitu sederhana tutur katanya, indah, dan mudah dipahami pesannya oleh anak-anak.

Masa kanak-kanak memang indah, sepatutnyalah diisi dengan hal yang indah. Buku yang bagus, salah satunya.


Jakarta Timur, Maret 2009