Pakistan adalah Impian, Indonesia pun

EXT : Di sebuah desa, di pinggir sawah yang hijau

Orang berkopiah : Mas, katanya mau berangkat ke Pakistan?
Suami : InsyaAllah....
Orang berkopiah : Alhamdulillah.... Pakistan itu impian.....
Suami : ?????


Saat sudah di Pakistan,

EXT : Di pinggir jalan raya, di dekat orang berjualan Jalabi.

Orang bershalwar Khamis putih : Where are you from?
Suami : Indonesia
Orang bershalwar Khamis putih : Indonesia?Muslim country, Soekarno, Jakarta!
Suami : ?????

###

Kawan, Saya sungguh tidak mengerti dengan dua orang yang sudah tua itu, di Indonesia dan di Pakistan. Tapi saya mencoba memahami.

Bagi orang-orang yang belajar sejarah tentang Dinasti Mughal beserta kejayaan emasnya, maka Pakistan adalah negara impian. Di sinilah, dahulu berdiri gagah kerajaan Islam yang kekuasaannya membentang luas. Maka, patutlah, beliau yang berkopiah yang berjalan di sebuah desa pinggir sawah itu, mengatakan Pakistan adalah impian. Di sini, bekas-bekas dinasti Mughal masih tampak. Sayang, semua tinggal kenangan.

Pun bagi orang yang belajar sejarah Indonesia. Indonesia adalah sebuah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Negara yang mempunyai pemimpin gagah, berani, dan cerdas, Ir. Soekarno. Dari Jakarta, Presiden Soekarno membuat dunia berdecak kagum. Maka, patutlah, beliau yang bershalwar khamis putih itu, yang duduk di sebuah kota ramai bernama Lahore, berdecak kagum mendengar kami dari Indonesia. Di Lahore, pemerintah Pakistan mengabadikan nama Presiden Soekarno, "Soekarno Bazaar".

Ya, saya sepakat.
Pakistan dan Indonesia adalah negara muslim,
Namun kini mereka sedang sakit.
Semoga, suatu saat Pakistan dan Indonesia bisa kembali berjaya dan bekerjasama.



Ini sekilas info hubungan erat Indonesia Pakistan, dari https://jsolutionblog.wordpress.com/2014/07/23/nama-jalan-soekarno-di-negara-sahabat/
Bahkan hingga kini kalangan militer Pakistan masih ingat jasa Bung Karno yang mengirim TNI AL berpatroli di laut selatan Pakistan saat konflik memanas antara Pakistan dan India di tahun 1965. Sebaliknya, pendiriPakistan Quaid Azzam Ali Jinnah pernah meminta menahan seluruh pesawat Belanda yang singgah di Pakistan pada 1947, ketika Belanda ingin menyerang Indonesia.
Pemerintah Indonesia juga menghargai jasa prajurit Pakistan, yang ketika itu ikut rombongan sekutu. Rombongan ratusan prajurit Pakistan itu tadinya diperintahkan menyerang Indonesia ketika sekutu sampai diSurabaya November 1945. Namun mereka berontak dan memilih berperang di sisi Indonesia. Dari total 600 tentara Pakistan, sebanyak 500 orang gugur di Surabaya. Pada Agustus 1995, Indonesia memberikan medali Indenpendece War Awards kepada tentara Pakistan ini.