Sekuel

Anak-anak saya, kalau ada film atau dongeng bagus, selalu bertanya "Ada sambungannya nggak?". Maksud anak-anak saya adalah "sekuel", sekuel dari film yang ditonton atau dongeng yang dikarang oleh saya. Mereka selalu antusias menunggu "sekuel".

Sebagai penikmat film dan dongeng, saya termasuk orang yang tidak suka dengan sekuel. Meskipun itu film yang dibuat oleh sutradara favorit saya. Film "Le Petit Nicolas (2009)", film Perancis yang sangat saya suka, tahun 2014 dibuat sekuelnya "Les Vacances du Petit Nicolas". Tidak seperti anak-anak saya yang selalu antusias menunggu sekuel, saya tidak terlalu antusias. Mengapa? Film Le Petit Nicolas sudah begitu membekas di hati saya : ceritanya, dialog-dialognya, sinematografinya, tokoh-tokohnya, musiknya, semuanya. Saya tidak berharap apa-apa sebelum menonton Le Petit Nicolas, tapi apa saja yang saya inginkan dari sebuah karya film, itu tercapai semua dalam film karya Laurent Tirard. Saya tidak ingin kecewa terhadap Laurent Tirard, sehingga saya tidak menaruh harapan terlalu tinggi selum saya menonton sekuelnya.

Dalam kesempatan lain, saat membaca beberapa artikel. Rajkumar Hirani, sutradara favorit saya yang lain, antusias membuat sekuel film "PK". Menurut artikel yang saya baca, tokoh aliennya pun sudah dipersiapkan, Ranbir Kapoor, aktor India yang sudah mendapatkan beberapa penghargaan. Seperti "Le Petit Nicolas", film "PK" pun sudah begitu membekas di hati saya : ceritanya, dialog-dialognya, sinematografinya, tokoh-tokohnya, musiknya, semuanya! Saya tidak berharap apa-apa sebelum menonton film ini, tapi apa saja yang saya inginkan dari sebuah karya film, itu tercapai semua dalam film PK. Satu hal yang saya garis bawahi adalah, nilai-nilai yang saya anut dengan nilai-nilai yang dianut Rajkumar Hirani, berbeda. Film "PK" sudah menuai kontroversi, meski menurut saya perlu cermat sekali mengomentari nilai-nilai yang dianggap kontroversial itu. Nah, saya tidak ingin kecewa terhadap Rajkumar Hirani, sehingga saya pun tidak berharap sekuel film ini benar-benar ada. Biarlah film ini membekas menjadi kenangan indah dalam memori perfilman saya.

Memang, tidak semua sekuel itu lebih buruk dari film pertamanya. Tidak semua, tapi jarang. Jarang ada sekuel yang sebagus pertamanya. Satu contoh, film "Toy Story". Sekuel film ini, Toy Story 2 dan Toy Story 3, menurut saya lebih luar biasa. Animasi jauh lebih bagus, ceritanya bagus, semua bagus. Bahkan film-film pendeknya pun kualitasnya bagus. Menurut saya, Toy Story adalah counterexample atau contoh penyangkal dari anggapan bahwa sekuel tidak sebagus film pertama.

Meski begitu, saya termasuk orang yang beranggapan, tidak perlu ada sekuel film atau dongeng. Jika film itu bagus, jika dongeng itu bagus, biarlah itu membekas menjadi kenangan indah yang tidak terlupakan.

Pun dengan "sekuel kepemimpinan politik". Saya beranggapan, jika ia bagus menjadi pemimpin, biarlah tuntaskan kenangan indah dan stop. Jika ada sekuel, sekuel, dan sekuel, maka harapan akan melambung, melambung, dan melambung. Jika sekuelnya buruk, maka kecewa akhirnya. Ups, saya tidak suka bicara politik. 

Saya akhiri, wassalam.