Daur Hidup Cinta

(Sebuah kado pernikahan untuk dua saudari saya,
yang kini semakin sakinah,
Ida dan Ina)

Dahsyat memang akibat dari ide untuk menikah itu.
Saat masih lajang, saya suka tertegun hebat dengan sebuah rumah yang terdapat jemuran baju bayi, tawa anak kecil, sandal pria dewasa bersanding dengan sandal wanita dewasa, dan mainan yang tergeletak di teras.

Dahsyat memang akibat dari ide untuk menikah itu.
Saat pertama kali bertemu calon pendamping, bunga-bunga terasa bermekaran begitu wangi. Bulan purnama seakan-akan kalah indahnya. Hati terus menerus bergetar.

Dahsyat memang akibat dari ide untuk menikah itu.
Saat hari pernikahan tiba, alam semesta seakan ikut menggulirkan doa. Seolah-olah, kitalah orang paling bahagia di dunia. Energi menjadi begitu besar, semangat hidup menyala, dan semua tampak indah merona. Cinta, sedang menjadi kata yang menyala-nyala dengan binarnya.

Kini, pernikahan sudah terlaksana.
Seorang pria dewasa kini sudah bersanding. Anak-anak pun sudah di pangkuan. Hmmm…. kadang saya membatin, benarkah cinta itu ada? Saya tidak berdesir-desir lagi saat bertemu suami saya, tidak seperti desiran yang terasa saat “pertama kali” melihat sosok itu. Saya tidak lagi terngiang-ngiang namanya, seperti dahulu kala. 

Tapi ah… saya pikir, cinta itu pasti ada. Cinta bagi saya adalah sesuatu yang hidup. Dahulu mungkin cinta diejawantahkan dengan hati yang bergetar-getar saat bertemu. Tapi sekarang, justru bergetar-getar saat tidak bertemu. Saat seharusnya sudah pulang tapi belum pulang, sementara petir dan hujan lebat mengguyur kota. Saat seharusnya sudah pulang tapi belum mengetuk pintu, sementara dingin begitu menggigit dan angin berhembus begitu menakutkan.

Seiring dengan semakin seringnya berinteraksi, cinta tumbuh menjadi ketenangan, kekuatan, dan kebahagiaan.

Seiring berjalannya rumah tangga, saya kian sering membatin seperti ini, “Ahaaa! Teryata dia pria terbaik” atau “Nah, ini dia orang yang aku butuhkan!”

Memang, dahsyat sekali akibat dari ide menikah itu.



Lahore, di suatu musim yang mendidihkan ubun-ubun