PhD : Ebrar, Ibrar, Brar, dan Putro

Anak saya, Abrar, sekarang punya panggilan sendiri. Karena pelafalan huruf di sini seperti dalam bahasa Inggris, maka "A" dibaca "E". Jadilah banyak orang memanggil "Ebrar". Mungkin karena di sini ada nama yang sama, yaitu nama penyanyi terkenal bernama "Abrar Ul Haq". Maka lebih banyak yang memanggil ":Ebrar" daripada "Abrar"

Selain itu, ada juga yang memanggil "Ibrar". Mungkin juga karena di Pakistan banyak nama "Ibrar". Salah satu teacher di sekolah, beberapa kali keliru menulis nama di buku Abrar, yaitu "Ibrar".

Ada juga yang memanggilnya "Brar" saja. Ini terutama oleh sobat karib Abrar yang dahulu satu bangunan rumah dengan kami. Namanya Ali Haider. Kalau mau mengajak main, maka Ali akan memanggil "Braaaar....".  Seingat saya, jarang sekali Ali memanggil lengkap "Abrar" atau "Ebrar"

Ketiga panggilan itu menurut saya masih wajar dan relevan. Nah, yang saya herankan adalah panggilan yang diberikan Uncle Mushtaq.

Uncle Mushtaq adalah teknisi pompa langganan kami. Sebagai satu-satunya keluarga Indonesia di area sekitar Wahdat Colony, kami merasa perlu berhati-hati mempercayai seseorang. Kalau pria, caranya adalah dengan melihat kehadiran mereka di masjid pada saat sholat shubuh berjamaah. Uncle Mushtaq adalah salah satu peserta sholat shubuh berjamaah yang aktif. Dari sholat shubuh itulah, suami saya berkenalan baik dengan Uncle.

Ternyata Uncle pernah bekerja di Arab dan punya kenalan orang-orang Indonesia. Entah bagaimana caranya, Uncle ingat kosakata "Putro". Di Pakistan, sudah biasa orang yang sudah tua, memanggil anak hanya dengan kata "Beta", artinya "Nak". Maka, Uncle Mushtaq pun mempraktekan itu dengan mengganti kata "Putro"

Walhasil, jika lepas sholat shubuh Abrar bertemu Uncle Mushtaq, maka Uncle akan memanggil "Putroooooo!"

Beliaulah satu-satunya orang Pakistan yang memanggil Abrar dengan kata "Putro".