Phd : Kisah Sehelai Dupata

Di Lahore, sudah umum orang menjemur pakaian di pagar atau dinding rumah lantai dua atau tiga, atau empat. Di musim dingin, kalau ada sinar matahari, maka sudah pasti banyak jemuran. Beberapa hari terakhir sedang banyak angin. Malangnya, orang-orang sini tidak mau menggunakan teknologi canggih bernama "Jepitan Jemuran". Bisa dibayangkan ya, jemuran terbang kesana-kemari.

Dan inilai kisah sehelai dupata. Ia nyangkut di kabel dekat balkon rumah saya. Dupata berwarna hijau dan pink. Saya tanya ke tetangga saya, si pemilik rumah, katanya bukan. Saya tanya tetangga depan rumah, tidak mengakui dupata itu. Saya tanya tetangga saya, Hamzah yang memelihara domba, bukan juga. 

Akhirnya setelah beberapa hari Dupata itu saya ikat di balkon saya, hari ini Nenek Hamzah mengikat Dupata itu di balkonnya.Dupata melambai-lambai tertiup angin.

Saking seringnya kejadian seperti ini, saya jadi pengin menulis cerpen. Judulnya "Cinta Dupata". Ihiks. Ceritanya tentang perkenalan seorang pemuda tampan dengan seorang gadis rupawan yang diawali dari sehelai dupata terbang. Kemudian, perkenalan mereka hanya saling menatap, tidak pernah saling berbicara. Bukan tradisi sini, gadis dan jejaka saling mengobrol. Nah, akhirnya kisah cinta mereka hanya sebatas pandangan mata, karena masing-masing sudah dijodohkan dengan sepupu masing-masing. Ya, sesuai tradisi. Sekian cerpennya, bener-bener cerita PENDEK. Ahaaai.